Trek Terpanjang Se-Jawa: Pendakian Argopuro Lintas Baderan-Bremi

Oleh Unknown - Februari 01, 2019


Di antara sekian gunung yang pernah saya singgahi, Argopuro mungkin paling punya banyak kesan. Seperti tidak ada habisnya menceritakan perjalanan pendakian Argopuro ini.

Argopuro adalah salah satu puncak dari Pegunungan Yang (atau disebut juga Iyang, atau Yang-Argapura). Pegunungan Yang ini terbentang di sisi timur Pulau Jawa, menyentuh beberapa kabupatan dalam rentangnya: Lumajang, Jember, Probolinggo, Situbondo, hingga Bondowoso. Untaiannya menyentuh 'si kecil cadas' Gunung Lemongan hingga kaldera terbesar Jawa, Gunung Raung.


Nah, kali ini saya mau berbagi rute pendakian Argopuro lintas Baderan-Bremi. Rute ini dimulai dari Desa Baderan, Bondowoso dan berakhir di Desa Bremi, Probolinggo. Inilah trek pendakian terpanjang di Pulau Jawa yang idealnya membutuhkan waktu 3-4 hari perjalanan.

Hari Pertama



Berangkat dari Desa Baderan pukul 05.00. Jangan lupa mengurus perizinan pendakian, ya!
Setelah itu, pendaki bisa naik ojek hingga batas makadam, kurang lebih 45 menit perjalanan. Kalau sekarang, sih, sudah tidak makadam lagi. Aspal mulus, menyenangkan dan tetap bisa naik ojek tanpa takut pinggang bobrok.


Dari batas makadam, perjalanan berlanjut hingga melalui Mata Air 1 dan Mata Air 2. Dengan menempuh kurang lebih 10 jam jalan santai dari pos pendakian, kita bisa bermalam di Mata Air 2 yang areanya cukup untuk 3-4 tenda kapasitas medium.

Jenis medan: tanah, beragam dari ladang hingga hutan tropis. Banyak nanjaknya :')
Sumber air: Mata Air 1 dan Mata Air 2.


Hari Kedua

Menuju padang rumput kecintaan pendaki, padang Cikasur. Nggak ada duanya, deh. Bisa melihat ribuan bintang tanpa polusi cahaya di malam hari, menikmati matahari terbit yang indah, sampai melihat merak hutan.



Sungai Cikasur menyambut kami dengan alirannya yang tampak segar. Tidak ada larangan untuk mencuci di sini, tapi sebaiknya jangan, ya. Sebab ini adalah sumber air bagi banyak satwa di sekitar sini. Di alirannya, ada selada air juga yang biasa dipanen warga Baderan sebagai makanan sehari-hari dan dijual kembali. Boleh ikutan metik untuk makan malam, kok!




Oiya, sebagai informasi, ojek pendakian Baderan bisa menjangkau Cikasur dalam 2 jam perjalanan. Awas sakit hati kalau pas capek-capek jalan eh ketemu ojek 😂

Jenis medan: tanah, cenderung turun, banyak savana.
Sumber air: Sungai Cikasur.

Hari Ketiga

Hari ini pendaki akan menuju Alun-Alun Lonceng via Cisentor. Nah, hari ketiga ini mulai banyak tantangannya. Rata-rata pendakian di Jawa bisa diselesaikan dalam 3 hari, tapi di sini kita baru setengah perjalanan. Mental, manajemen bekal dan waktu bakalan diuji betul!




Dari Cikasur, perhatikan baik-baik setiap rambu dan petunjuk arah. Jangan pernah melawan peraturan! Salah jalur bisa sangat berbahaya, sebab sisi selatan Cikasur adalah sarang babi hutan yang berbahaya. Namun, setiap perjalanan dari Cikasur ke Cisentor akan dipenuhi berbagai tanaman yang indah.

Lalu di Cisentor, pendaki harus berhati-hati karena bakal sering-sering bertemu Jelateng alias tanaman Jancukan. Kenapa bisa disebut Jancukan? Lain kali kita bahas, ya!

tanaman jelateng
Dalam perjalanan menuju Rawa Embik pun kami sempat saling beradu pandang dengan hewan buas. Mau nangis rasanya. Seakan kurang berat, perjalanan kami dihambat hujan deras dan trek yang naik turun.

Hari sudah gelap ketika kami mulai menuju Sabana Lonceng. Di bawah guyuran hujan, kami membangun tenda agar segera bisa mengganti pakaian dan menyiapkan makanan. Jangan sampai hipotermia, di sini jauh dari rumah sakit~

Jenis medan: beragam dari tanah padat hingga savana. Naik turun semua ada.
Sumber air: Cisentor (debit air kecil), Rawa Embik (lebih bersih).


Hari Keempat

Inilah hari terspesial karena kami bisa mengunjungi ketiga titik tertinggi pegunungan Hyang: Puncak Rengganis, Puncak Argopuro, dan Puncak Yang.


Pukul lima pagi, kami meninggalkan tenda dan menuju Puncak Rengganis. Matahari pagi dan angin yang dingin menyambut kami di puncak.


Konon, di area puncak ini lah istana Dewi Rengganis. Ada sebuah area luas berbatu dengan puing-puing di tengahnya, dan sebuah area berhiaskan edelweis dan cantigi. Dari puncak, kami bisa melihat bentangan pegunungan Argopuro yang hijau dan asri.


Menuju Danau Taman Hidup.
Jalanan cenderung menurun, melewati hutan lumut yang pekat.
Bermalam di Taman Hidup

Hari Kelima

Turun pulang menuju Bremi. Trek tanah dengan hutan dan perkebunan warga.

Hati-hati, bakal banyak lintah di sini!

Kalau sudah bertemu perkebunan karet, tandanya kita sudah semakin dekat dengan ladang dan pemukiman. Saatnya bertemu peradaban dan manusia lagi~

  • Share:

Sudah Baca Ini Belum?

Belum Ada komentar

Bagaimana pendapatmu? Sampaikan dengan baik, ya! Komentar kamu akan muncul setelah dimoderasi.