Traveling and Teaching Pulau Bawean Part 3

Oleh Imaniar Hanifa - Oktober 21, 2018



Dermaga apung Gili menyambut kami. Rasanya masih susah menyeimbangkan langkah karena pijakan kami terasa terus bergoyang. Terlebih lagi barang-barang perlengkapan kami lumayan banyak. Eh, tidak ada porter, ya! Kami harus bergotong royong dan saling membantu untuk membawa semua perlengkapan.

Sembari menunggu kawan-kawan di perahu kedua datang dari Pelabuhan Pamona, kami mulai berinteraksi dengan penduduk Pulau Gili. Memesan beberapa minuman dingin karena cuaca terik memang nggak umum.

"Eh, di situ ada penyu, loh. Buwesar!"
Hmm, penasaran juga. Kayak apa sih penyu yang katanya buwesar itu?

Saya beranjak ke sebuah penangkaran penyu di dekat pelabuhan barat Gili Noko.  Hanya berupa kolam yang cukup dalam dan sedikit luas, tapi berisi beberapa ekor penyu. Beneran gede! Satu yang paling sering berenang dekat permukaan kira-kira memiliki lebar tempurung seperti laki-laki dewasa.


Beberapa anak kecil mengikuti kami, tertarik dengan orang-orang "asing" yang baru datang ini. Mereka terlihat bersemangat untuk menceritakan penyu jumbo di kolam tersebut. Tapi ya masih malu-malu. Hmm, lihat saja besok.

Malam Pertama di Pulau Gili

Usai bermain-main sebentar di Gili Noko, kami kembali untuk mempersiapkan kegiatan teaching esok hari.

Malam pertama di Pulau Gili, kami menempati sebuah rumah milik warga. Matahari sudah terbenam. Listrik dan penerangan masih aman. Sebagian volunteer mulai menyalakan handphone, mencoba mencari sedikit sinyal untuk memberi kabar orang-orang di sekitar mereka. Ternyata lebih buruk dari Pulau Bawean, cuma ada sinyal provider XL dan sangat sedikit kemungkinan untuk tersambung dengan internet.

Suasana di rumah singgah volunteer

Usai makan, kami mempersiapkan kado dan perlengkapan teaching. Semua saling berbagi tugas: memilah buku dan alat tulis, memotong plastik motif, memasang pita. Rasanya hampir lupa kapan terakhir kali melakukan kegiatan bungkus kado seperti ini. Dan sepertinya ada rasa senang mengisi dada, sebab saya tahu akan ada banyak hati yang bergembira menerima hasil tangan kami besok.

Suara genset menemani kegiatan malam itu. Nyaris tidak terdengar di tengah canda tawa obrolan kami. Saya sih yang mungkin kurang perhatian, namun sepertinya listrik hanya tersedia di Gili hingga pukul setengah 9 malam. Setelahnya, genset akan dinyalakan. Itupun tidak semua rumah memiliki genset ini.

Hmm.. Semakin terasa sulitnya tinggal di daerah 3T. Sinyal untuk berkomunikasi susah. Listrik hanya pada jam tertentu. Moda transportasi terbatas.

Kegiatan Teaching SD Negeri 4 Sidogedungbatu, Bawean



Selamat Pagi!

Kami menaikkan perlengkapan teaching dan kado-kado ke dalam gerobak pengangkut barang-barang. Eh, tahu-tahu beberapa anak kecil datang dan tanpa banyak bertanya dan disuruh, menarik gerobak itu menuju sekolah. Hanya ada beberapa kantong plastik besar berisi makanan ringan dan perlengkapan yang kami bawa sendiri karena tak terangkut gerobak.


Sepertinya mereka juga antusias dengan kedatangan kami. Beberapa anak melongok dari tembok pagar sekolah yang rendah. Sebagian lagi langsung berlarian menyambut, menyalami tangan kami dan memanggil "Bu Guru! Bu Guru!"



Wajar sih, volunteer kegiatan teaching Bawean ini memang lebih banyak ceweknya :D

Pukul 7, upacara dilakukan di halaman sekolah. Kepala SD Negeri 4 Sidogedungbatu memberikan sambutan untuk kami sebelum acara ice breaking dimulai. Ngapain ice breaking-nya? Joget baby shark dan banana dance dong!



Berikutnya kami masuk ke ruangan kelas masing-masing dan memulai kegiatan teaching. Saya bersama Kak ... mendapat mandat untuk menemani kelas 2. Materi pembelajaran kali ini adalah moda transportasi.

Pagi itu, tiba-tiba cuaca berubah drastis. Hujan deras mendadak menyerbu. Suasana ruang kelas yang hanya mengandalkan cahaya alami menjadi gelap. Air tampak sedikit menggenang di halaman sekolah yang memiliki lebih banyak pasir pantai daripada tanah padat. Lucunya, suhu masih gerah.

Perubahan cuaca seperti ini yang sedikit mengganggu pikiran kami. Benar juga saat kami diinfokan cuaca buruk di hari pertama rangkaian kegiatan ini. Cuaca di sebuah pulau, di tengah lautan lepas, sangat sensitif dan tak semudah daratan besar.

Tapi perasaan itu hanya singgah sebentar. Kami lanjut bermain-main dan mewarnai media pembelajaran dengan spidol, pensil warna, dan aneka potongan kertas.


Di sela-sela proses belajar sambil bermain, tentu saja kami berkenalan dengan adik-adik ini. Mendengarkan cerita-cerita mereka. Ada yang bercita-cita sekolah di Jawa, ada yang suka jalan-jalan bersama orangtuanya. Ada pula yang bercerita bahwa kini tinggal hanya dengan neneknya, sebab orang tuanya bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri dan kakaknya disekolahkan di pondok pesantren di Jawa.

Miris sih mendengarnya. Sebab peran orang tua sangat dibutuhkan di usia mereka. Mendengar keluh kesah, membimbing dan menemani belajar, dan tentu saja memotivasi mereka. Apa boleh buat, faktor ekonomi dan lapangan kerja yang sesuai untuk orang tua mereka terbatas di Bawean sini.

Anak-anak ini menjadi generasi yang timpang, jarang mengenal budaya luar pulaunya, dan terbatas dengan kebiasaan yang diajarkan kakek nenek mereka --yang kadang menjadi kolot dan tak ingin mengejar pendidikan terlalu tinggi. Jangan harap mereka kenal media sosial seperti sebayanya di Jawa, televisi saja hanya dinikmati beberapa kalangan.


  • Share:

Sudah Baca Ini Belum?

8 komentar

  1. Duuuh anak2nya baik dan sopan yaaa.. Terharu liat wajah2 mungil mereka di foto :) . Trus gmn saat pembagian kado2nya mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi-bagi kado di kelas sambil belajar bersama. Mereka jadi makin senang ketika proses belajar :)

      Hapus
  2. Hohoho mantap sekali, ceria semua murid-muridnya kak 😇😇

    BalasHapus
  3. Pingin bagung... dan kebetulan pingin explore bawean juga.

    BalasHapus
  4. Kata temenku yg asli Bawean klo keliling di sana motoran gak sampe dua jam bisa. Hm jadi penasaran se asyik apa di Bawean

    BalasHapus
  5. Ternyuh ya lihat wajah polos mereka dan cerita serta harapan anak2 tersebut. Berbahagialah anak yg masih punya orangtua lengkap. Hbet banget mbak bisa mengajari anak2 ini, salut!

    BalasHapus

Bagaimana pendapatmu? Sampaikan dengan baik, ya! Komentar kamu akan muncul setelah dimoderasi.