Traveling and Teaching di Pulau Bawean (Hari 1)

Oleh Imaniar Hanifa - Mei 10, 2018


Selepas Hari Pendidikan Nasional, saya jadi ingat ada satu kisah jalan-jalan yang belum sempat diposting di blog ini. Ya, tahun lalu saya mendapat kesempatan untuk menjadi volunteer kegiatan traveling and teaching lagi.

Berbeda dari kegiatan traveling and teaching sebelumnya, kali ini saya menjadi bagian dari 1000 Guru Regional Surabaya. Lebih istimewanya lagi, daerah tujuan kami tidak di Pulau Jawa. Namun sebuah pulau berjarak lebih dari 150 km di utara Jawa, Bawean.

Cerita ini akan menjadi sangaaat panjang. Jadi saya ceritakan dari hari pertama, ya!

Perjalanan Menuju Pulau Bawean



Sedari awal, saya tahu bahwa Bawean bukan tempat yang dekat dan bisa dijangkau dengan mudah. Kalau di traveling and teaching Pasuruan, meski jauh dari kota, saya tahu saya bisa pulang dengan mudah. Begitu pula dengan traveling and teaching Banyuwangi. Bukannya ingin menyerah di tengah jalan atau khawatir nggak tahan di pedalaman. Namun perasaan seperti, "ini nggak jauh-jauh amat, kok" sedikit banyak membantu diri sendiri dan orang tua untuk tenang, kan.

Saya tinggal di Malang. Transportasi untuk menuju Pelabuhan Bawean adalah kapal yang berangkat dari Pelabuhan Gresik, meet point para volunteer. Dengan kendala jadwal kerja dan jarak yang cukup jauh, ditambah angkutan umum yang terbatas di jamnya, saya baru bisa berangkat dini hari.

Pukul 02.00 pagi saya berangkat dengan motor menuju Sidoarjo, lalu menumpang transportasi online ke Pelabuhan Gresik. Well, kalau mau dengan cara standar sih ke Pelabuhan Gresik bisa naik angkot dari Terminal Purabaya, Sidoarjo 😅



Kami menumpang di Kapal Ekspress Bahari. Kapasitas kapal ini 200 orang dengan bagasi di bagian bawah. Pola tempat duduknya menyerupai pesawat di kabin ekonomi: 2-3-3. Namun tentu saja ruang duduk dan tinggi ruangnya lebih mirip bus ekonomi.

Ngomong-ngomong, ini pengalaman pertama saya naik kapal yang kapasitasnya lebih dari 30 orang sih. Ini juga pengalaman pertama saya naik kapal dengan waktu perjalanan lebih dari tiga jam.

Kapal Express Bahari 8E dinaungi mendung di Dermaga Sangkapura

Cuaca buruk membuat kapal terombang-ambing dengan keras. Beberapa volunteer dan penumpang kapal mabuk laut. Saya juga sudah mual, tapi menahan diri sebisanya. Duduk kaku memejamkan mata, sebab tak ada yang bisa dilihat di jendela selain langit kelabu di luar.

Bahkan setelah sampai di Pulau Bawean, kapal kami kesulitan merapat di Pelabuhan Sangkapura. Cuaca yang tidak baik membuat kru kapal melarang kami turun. Orang-orang gelisah. Beberapa kuli angkut naik turun, mencoba menawarkan jasa dan payung. Penumpang makin tidak sabar dan meminta kru kapal untuk mengizinkan turun.

Butuh hampir dua jam sebelum kami bisa turun dari kapal. Itu pun disambut dengan hujan yang memaksa kami singgah di kantor pelabuhan. Awal yang cukup membuat deg-degan. Inilah rintangan yang harus dihadapi orang-orang pulau, di mana akses transportasi sangat bergantung dengan cuaca.

Kesan Pertama di Pulau Bawean

Foto dari @1000_guru_surabaya
Saya baru tahu kalau Bawean tidak sekecil pulau-pulau lain yang pernah saya kunjungi untuk wisata. Bukan yang dikit-dikit ketemu laut, gitu. Bawean cukup luas, punya area pasar, sejumlah ATM dan bank, alun-alun, naik turun jalanan, sawah, hutan, air terjun, dan masih banyak lagi. Peradabannya tetap berkembang. Tentu saja di beberapa tempat, listrik masih terbatas sampai jam tertentu. Sinyal provider juga gantian, siang Telkomsel malam XL. Waduh...

Namun di luar itu semua, Bawean terasa nyaman dihuni dan tidak terasa seperti tinggal jauh dari daratan Jawa. Rasanya seperti melalui kecamatan-kecamatan di beberapa area Kabupaten Malang. Jalan aspal, sawah-sawah, pemukiman, alun-alun, semua terasa tak asing.

Cepat sekali untuk merasa akrab dengan suasana Bawean. Selama di sana, kami tinggal di sebuah rumah yang disediakan oleh Pak Shihab, Kepala SMK Muda Bawean.

"Orang Bawean itu unik," kata pendamping para volunteer selama di Bawean, Mas Luki. "Kami ini dari mukanya mirip orang Jawa, tapi pakaian kami seperti Melayu, terus pas ngomong pakai bahasa Madura."
Makan malam pertama di Bawean
Mas Luki juga dengan senang hati membantu tim masak-masak untuk makan malam. Memberi tahu kami cara mencacah kasar buah mangga muda untuk dijadikan sambal pencit Bawean. Rasanya enak banget! Baru kali ini saya ketagihan sambal mangga muda yang sedapnya pas banget dimakan dengan ikan bakar. Sampai besok-besoknya pun, teman-teman volunteer selalu menanyakan menu sambal ini setiap makan 😂

Mangrove Hijau Daun Bawean 


Sore pertama di Bawean, kami diajak untuk berkeliling mengunjungi kawasan hutan mangrove Desa Daun. Perjalanan naik pick up modifikasi yang terasa seperti oplet. Hanya sepuluh menit, lalu kami berjalan melalui area persawahan.

Persawahan ini memang ditanami karena belum musimnya, pun hujan yang deras membuat lumpur menggenang di area tersebut. Meski demikian, foto-foto tetap jalan terus, lah!

Mas Luki menceritakan pengelolaan hutan mangrove ini. Menurut beliau, hutan mangrove ini terhitung masih muda, kalau nggak salah dengar, baru tiga tahun. Dalam masa awal pembangunannya, banyak juga kendala yang dihadapi. Di antaranya penolakan dari warga. Iya, warga lokal menolak.

Hal ini disebabkan ranting dan akar bakau sangat mudah didapatkan sebagai kayu bakar. Penolakannya bukan hanya dari mulut ke mulut. Konon, ada aksi penolakan berupa provokasi hingga di acara-acara sekelas kondangan.



Padahal, tanaman bakau dapat membantu mencegah abrasi, pengikisan pantai oleh ombak. Pada jangka panjang, kerusakan tersebut berpotensi menjadi banjir di pesisir dan dapat mengurangi garis pantai.

Saat dikelola menjadi hutan mangrove, lokasi ini juga dapat menjadi obyek wisata. Pengembangan obyek wisata tentu membantu peningkatan pendapatan daerah dan ekonomi bagi penduduk. Belum lagi potensi peningkatan penyediaan sarana transportasi yang tak hanya menguntungkan wisatawan, namun juga warga lokal sendiri.

"Ya baru sekarang ini orang-orang mulai sadar manfaatnya, mbak," katanya sambil menunggu teman-teman volunteer yang masih sibuk berfoto.

Volunteer lelaki di TNT Pulau Bawean. Jumlahnya sedikit tapi kocaknya kayak sekampung
Mas Luki kemudian bercerita mengenai dirinya sendiri. Ternyata dia seumuran sama saya, meski terlambat mengenyam bangku kuliah. Dia juga bercerita bahwa dirinya merupakan korban stigma masyarakat.

Menurutnya, penduduk lokal masih banyak yang tidak peduli dengan pendidikan yang tinggi. Biasanya, anak hanya disuruh bersekolah hingga SD atau SMP saja, lalu melanjutkan pendidikan di pondok pesantren di Jawa. Setelah itu, mereka memilih bekerja di kota-kota besar di Jawa, seperti Surabaya dan Gresik. Padahal kompetensi mereka cenderung kalah dengan para lulusan Jawa yang berpendidikan sarjana.

Kekalahan di persaingan dunia kerja ini kadang membuat mereka akhirnya memilih menjadi TKI di luar negeri. Itu lah yang terjadi pada generasi sebelumnya, yang kemudian memiliki anak. Sementara orang tua bekerja sebagai TKI di luar negeri, anak-anak mereka dititipkan di nenek atau kakek yang masih terjebak dengan pemikiran "tak perlu sekolah tinggi".

Terlihat sudah permasalahan yang menjadi motivasi kami mengunjungi Pulau Bawean di traveling and teaching kali ini. Besok, kami akan mulai memberikan kontribusi untuk Pulau Bawean!

Mau tahu cerita traveling and teaching Bawean hari kedua? Tunggu posting berikutnya, ya!

  • Share:

Sudah Baca Ini Belum?

43 komentar

  1. Seru ya kak naik kapal fery .. sempet terombang-ambing gegara ombak 😁
    Tapi malah bikin pengalaman seru,loh ..
    Kayak pengalamanku dulu waktu nyebrang dari pelabuhan Bakauheni.
    Saat itu ombak cukup besar membuat badan kapal naik turun ...
    Rasanya kayak petualangan seru 😂


    Waduuh, itu sambal khas Bawean dari cacahan mangga muda ... bikin laper baca tengah hari kayak gini 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget ��
      Cobain deh, sambal mangga muda-nya. Jamin ketagihan!

      Hapus
  2. asik bisa kumpul2 banyak temennya.

    BalasHapus
  3. Ada loh teman blogger dari Bawean. Coba kamu baca blognya mesra berkelana, salah satu dari kedua orang itu dari Bawean ahahhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, terima kasih rekomendasinya :D

      Hapus
  4. wiih mbaknya ikutan 1000 Guru mantapp aku mau ikutan TnT tapi keburu punya bayi ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa ikut komunitas lain, mba, kalau anaknya sudah bisa mandiri. Supaya tetap berkomunitas :D

      Hapus
  5. dulu pengen ikutan ini eh sudah keburu nikah dan punya baby haha XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga lain kali dapat kesempatan ya XD

      Hapus
  6. Asik banget ya bisa naik kapan, kumpul sama teman, makan bersama. Duh uindah bet. Suka banget sama pemandangannya juga. Lihat perahu yang biru membuatku kangen naik perahu tahun lalu..he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main lagi bang, biar nggak kangen hehe :D

      Hapus
  7. Seru juga nih berlayar buat traveling dan teaching. Pengen coba ikut 1000 guru tapi takut kontra sama orang-orang terdekat huhu

    BalasHapus
  8. Seru ya kayaknya.
    Sambil ngajar bisa sekalian liburan dan seru2an bareng gitu.
    Beberapa kali sih dengar tentang Pulau Bawean ini, cuma belum sempat kesana, hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bawean ini bagus banget, kak Hans! Kayaknya 4 hari di sana kurang, gitu :D

      Destinasi wisatanya juga lumayan banyak. Aku mau bahas beberapa yang aku kunjungi di posting berikutnya :)

      Hapus
  9. Seru ya bisa ngajar sambil liburan giru, hehehe.
    Seru banget pastinya apalagi kalo ramean gitu.
    Komen aku sebelumnya masuk gak ya? Hahaha.
    Karena gak yakin yaudah komen ulang :))

    BalasHapus
  10. Lihat postingan gini ini rasanya pengen juga, tapi terus inget udah ibu ibu gini susah banget cari waktunya yang pas hehe. Dipuas-puasin mbak mumpung bisa explore explore :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Utamain Kafa dulu yaa, kak Ghea :D

      Hapus
  11. Nah ini, mungkin pengalaman yang asyik tapi bermakna juga soalnya bisa menyebarkan ilmu yang udah kita dapet, tapi masalahnya..

    Kalo sudah selesai, whats next?

    BalasHapus
    Balasan
    1. What's next tentang apa dulu, nih? Apakah orang yang menjadi volunteer, anak-anak yang kita temani saat volunteering, misi komunitas, perkembangan daerah tujuan, atau apa? :)

      Hapus
  12. Wah ke Bawean ya. Suamiku sekarang dinas di Gresik. Tapi aku masih mikir-mikir diajak main ke Bawean. Eh, ternyata nggak jauh beda dengan kota kabupaten ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nggak banyak beda, meski terpisah laut sedemikian jauh. Coba ke Pulau Bawean, kak! :)

      Hapus
  13. Masih terjaga ya mbak, kelihatan bersih asri dan rapih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kawasan hutan mangrovenya masih baru dikelola, jadi sedang proses untuk selalu menjaga keasriannya :)

      Hapus
  14. aku pernah ke bawean kebetulan saudara ada yang tinggal di sini, enak banget tempatnya sejuk. Tapi aku malah ngak sempet ke pantainya neh mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di daerah pantainya panas banget, tapi di daerah lain memang sejuk :D Tadinya kukira Bawean itu cuma panas melulu, lho

      Hapus
  15. aku ada keluarga juga nih di pulau bawean. nggak pernah ketemu tapi pernah nelpon. jadi penasaran pengen ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak tempat menarik, lho, di Bawean :)

      Hapus
  16. Subhanallah semoga aku bisa kesana juga mba🤗

    BalasHapus
  17. Aku ngebayangin pas naik kapalnya mungkin udah deg-deg serrr soalnya cuaca buruk. Aku aja naik kapal biasa dengan cuaca baik aja suka mabuk laut apalagi ini pasti nggak karuan. Tapi untunglah semua terbayarkan dengan pemandangannya yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran, rasanya hati nggak karuan pas lihat ombak menyapu jendela kapal, huhu.. Alhamdulillah selama di sana terbilang lancar :)

      Hapus
  18. Kalauuu menurut saya pribadi sih.....kalau yang dimaksud dengan pendidikan tinggi di sini maksudnya pendidikan formal, jadi agak kaku gitu. Tapi wajar sih, karena sistem Indonesia memang masih 'kertas bernama ijazah is really precious'.

    Yang disayangkan ya itu, kalau orangtuanya bekerja dan tidak ada yang 'mendidik' anak-anaknya. Karena banyak juga cerita mengenai kesuksesan hidup seseorang tanpa melalui jalur pendidikan formal. Nah kuncinya, pendidikan dari orangtua.

    Wallahualam hehe.

    Tapi bukan saya juga ga setuju atau menyederhanakan hehe. Toh memang untuk jaman sekarang, sekolah itu bukan sekedar menimba ilmu tapi juga mengeruk ilmu sosial untuk menghadapi dunia yang sungguh thug ini :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih pendapatnya kaak!

      Bener, kak Zahra. Jalur pendidikan formal masih dibutuhkan di banyak area kehidupan. Sayang banget, karena banyak orang-orang yang tidak punya selembar kertas ijazah tapi punya skill yang mantap juga.

      Next post aku mau bahas lebih lanjut tentang peran orang tua untuk pendidikan ini, karena kebetulan hari ketiga ada kegiatan di sekolah dasar :)

      Hapus
  19. Wahhh asyik banget ya menyatu dengan alam gitu

    BalasHapus
  20. Wah.. Beruntung sekali mendapat kesempatan seru seperti ini.. Serasa berpetualang sambil menebar manfaat tentunya.. 👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Senang sekaligus bersyukur bisa mendapat kesempatan ikut kegiatan ini 😄

      Hapus
  21. Traveling & teaching, kegiatan positif dan inspiratif. Fun-nya dapet, bagi-bagi ilmunya juga.

    BalasHapus
  22. Saya baru tau ada Pulau Bawean tersebut, boleh donk di share biaya2 yang dikeluarkan untuk menuju ke pulau tersebut. berangkatnya harus group atau bisa sendiri??

    BalasHapus
  23. pendidikan itu biasanya sebagai pijakan untuk mendapat karir yang bagus bagi anak yang orangtuanya ekonomi biasa aja, kaya gue. kalau yang formal jarang atau mahal, kasihan juga mereka..

    BalasHapus

Bagaimana pendapatmu? Sampaikan dengan baik, ya! Komentar kamu akan muncul setelah dimoderasi.